Skip to content
December 8, 2011 / Kholis Media

Pentingnya komunikasi dengan employeer di Odesk


Di odesk, salah satu aspek yang penting adalah komunikasi, dan komunikasi tidak harus selalu terkait dengan bahasa inggris yang bagus, ada orang yg grammar englishnya rada kacau, tapi lihai berkomunikasinya tapi sebaliknya ada pula yang grammarnya bagus tapi kurang lihai dalam berkomunikasi

kenapa bisa begitu ?, karena menurut saya komunikasi itu lebih terkait dengan sikap ketimbang cuma soal tata bahasa, sikap seperti apa ?, di bawah ini saya coba jelaskan ciri2 orang yang komunikasinya bagus di dunia per-odesk-an :

– tidak menyembunyikan masalah dan membiarkannya paling tidak lewat dari 1 hari

lapor secepatnya kpd employer kalo ada problem, peduli amat kalo status IM dia gi “busy”, langsung kasih tau aja

“hi Wayne Rooney, dirimu kan tadi nyuruh saya bikin es krim, tapi gimana ya, ini saya udah coba cari2 di google kok susunya ndak ada, kalo gak ada susu susah nih bikin es krimnya”

kalo dia lagi benar2 sangat sibuk paling bilang gini

“hi Ucup, sorry i’m busy to practice penalty kick right now, i will check that and contact you later, thank’s anyway for give me an update”

kalo dia nggak terlalu sibuk, sebagian besar akan senang untuk bersama-sama terlibat memecahkan masalah yang dipunyai, bahkan memberikan solusi. kadang kita menyembunyikan masalah karena merasa malu atau takut dibilang tidak bisa, padahal kalo ketakutan ini dibiarkan, nanti bisa jadi bom waktu, employer bisa marah pekerjaan tertunda hanya gara2 ketidaktahuan kita, padahal kalo kita memberi tahu dan bertanya, mungkin employer udah punya solusinya

lalu jika kita menyembunyikan masalah itu berarti kita TIDAK PEDULI terhadap tugas/produk yang mau dibangun oleh employer, menurut saya hal pertama yang paling dihindari oleh employer adalah KETIDAKPEDULIAN sang contractor

so don’t hesitate to show to your employer that you CARE about their product, if you CARE about their task, they gonna LOVE YOU and even marry you “ehygterakhirmahngacodeng” 😀

– jangan ragu untuk memberi tahu situasi yang kita alami

kalo nggak ngerti bilang nggak ngerti, kalo mau libur bilang libur, kalo gi sakit bilang sakit, kalo gi ngantuk bilang ngantuk dan minta kerjanya besok pagi aja, kalo gi mau sholat jum’at dan tiba2 employer nyapa, jelaskan juga tentang kultur dan agama kita, kalo hari ini sebenarnya kita begini-begini, jadi gak bisa kerja dari jam segini dan segini, bahkan kalo employer kita atheis (yap saya pernah punya employer atheis, etapi bukan atheis deng, tepatnya agnostik), lalu kita jelaskan situasi jum’atan tsb, eh dia malah malah bilang gini

“don’t worry, i always respect other culture and religion, i apreciate it because you tell me about this”

dan malah mempersilahkan kita untuk nggak kerja dan menunda chatnya

– selalu inform progress pekerjaan paling nggak per 1-2 hari sekali, bahkan kalo employer sebenarnya gak meminta

progress yang ditulis nggak usah panjang2, cukup 1-2 baris saja kirim via email itu udah melegakan employer, syukur2 kalo bisa lebih detail itu lebih baik secara bikin tulisan panjang juga menjadikan jam kerja jadi panjang thus tentu saja meningkatkan dollar di rekening “loh”, eh beneran tulis panjang juga gpp selama isinya bukan OOT, again they will apreciate you

– selalu konfirmasi spek pekerjaan dan selalu bertanya kalo ada yang kurang jelas, misalnya si klien bilang gini “eh tolong buatin es krim” dong

selalu verifikasi ulang, “let me clarify, do you want ice cream, correct ?” terus kalo dia bilang “yes” kejar terus (eh emangnya maling wakakak), maksudnya tanya terus sampai speknya sejelas mungkin

“what’s flavor of ice cream do you like ?”
“what’s color of ice cream do you like ?”
“what’s kind of ice cream do you want ?, ice cream sandwich or ice cream abang2 ?” 😀

– ketika diskusi kalo kita merasa punya solusi yg lebih baik, bilang aja, jangan malu dan ragu2

misalnya dia bilang

“eh ini nih es krimnya kayaknya lebih enak kalo coklatnya 2 ton”

terus kita nge-intercept

“err menurut saya sih 2 ton kebanyakan, gmn kalo 2 ons aja, pan susunya juga ini sedikit”

nah kalo dia merasa saran kita masuk akal, paling bilang gini

“oh iya bener juga ya, thank’s for the suggestion”

atau kalo dia tetap ngotot, paling bilang gini

“ah nggak ah, 2 ton lebih baek, pake 2 ton aja”

Kalo saran kita diterima dia akan bilang terima kasih, kalo gak diterima pun gak ada ruginya buat kita, menurut saya semakin banyak saran kita diterima, semakin berharga pula kita dimata employer, so mending mana ?, diem2 aja manut2 doank apa yg dibilang employer tapi harga kita segitu2 aja atau kita mulai aktif untuk memberi saran2 sehingga kita semakin berharga di mata dia ?

So, be worthy contractor and again your employer will gonna LOVE you 😀

Author

Advertisements

2 Comments

Leave a Comment
  1. kusbandiyo / Dec 22 2013 2:30 pm

    Tidak jarang kita bertemu dengan kondisi financial cash flow (krn kita sbg subject di project). Yg jadi pertanyaan, dimana kita dihrskan menyelesaikan project tsb, padahal progress payment tdk ada atau kondisi kas sdg minus(employer). Apakah kita tetap ngotot kpd employer utk memberi kita dana operasional ? Atau kita ikutan kejar owner utk percepatan pembayaran ? Atau kita ikut menekan bea operasional ? Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣’

    • panghaidar / Jan 16 2014 10:29 am

      ada juga yg tiap progress job kita minta pembayaran, misal job udh 70% minta fee dan seterusnya 😀 . tpi tergantung kesepakatan diawal seh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: